Cepu Trip

BONUS

Setiap perjalanan selalu membawa sebongkah cerita yang menarik untuk diingat. Begitu juga perjalanan ke Cepu kali ini. Salah satu rekan #IF06, Ega Dioni, yang sedang melanjutkan pendidikan S2 di Jepang akan mengadakan akad nikah dan resepsi di kota kelahirannya, Cepu. Tentunya, kami sebagai kolega angkatan, tertarik untuk ikut meramaikan acara tersebut. Saya sendiri, jg melihat ini sebagai kesempatan untuk “kabur” dari Bandung, dengan sekelumit kesibukan yang sedang dijalani sekarang, ingin juga punya kesempatan 1-3 hari untuk pergi ke luar kota, dan Cepu Trip hadir di saat yang tepat.

Rombongan #IF06 terbagi menjadi beberapa regu sesuai dengan waktu dan moda keberangkatan menuju Cepu. Dari Jakarta, ada Nur, Anto dan Prana yang menggunakan pesawat langsung ke Solo pada hari Jumat. Juga dari Jakarta, Naila dan Austin menggunakan kereta Gumarang dan langsung turun di stasiun Cepu Sabtu pas hari H. Nisa berangkat dari Semarang. Ivan,Restya naik Lodaya Kamis malam dan sampai Jumat pagi di Solo. Saya, aqsath, obi dan tito serta Gary dan Frida naik Lodaya Jumat malam sampai Sabtu pagi di Jogya dan bertemu Upan yang dari hari Rabu sudah berada di Jogja. Adit,Gege dan Adi sayang sekali batal ikut karena sesuatu dan lain hal Smile . Meeting point, adalah di lokasi pernikahan Ega dilaksanakan.

Jumat malam, kereta Lodaya membawa saya menuju Timur, dengan estimasi waktu perjalanan 8 jam. Karena kebetulan beberapa tiket yang sudah di cancel, layout tempat duduk kami agak berantakan. Saya dan aqsath duduk bersebelahan. Obi di depan kami berdua dengan ibu-ibu yang tidak terlalu muda. Tito disamping kami duduk bersebehalah dengan seorang cewek yang sampai sekarang namanya masih menjadi misteri. Tapi untuk keperluan pemanggilan, kita sebut saja namanya Nadine .

Gejolak perjalanan dimulai dengan sebungkus Happy Tos, yang Tito keluarkan dan dengan baik hatinya menawarkan Happy Tos kepada kami. Karena pada saat itu lagi coding, saya terpaksa tidak makan terlalu banyak agar tanganya tidak berminyak. Tidak lama berselang, pak kondektur datang dari pintu gerbong untuk memeriksa tiket. Saya kebetulan tidak memegang tiket kereta, karena sebelumnya dipegang oleh Aqsath. Maka paniklah saya ketika Aqsath ternyata hanya memegang 1 tiket miliknya dan mengatakan 1 tiket saya sudah diberikan kepada saya distasiun. “Bisa bayar dikereta ngga sih ? “, tanya saya pada Aqsath, jaga-jaga kalau tiket saya memang tidak ada. Karena Aqsath lupa, maka saya pun bertanya pada Obi apakah ia melihat tiket saya dan tidak bertanya pada Tito karena ia sedang asyik sendiri. Kondektur makin dekat, mungkin muka saya sudah tampak pasrah sehingga Aqsath dengan berbaik hati mengeluarkan tiket saya yang sudah disimpannya. Rekayasa Ekspresi Wajah memang salah satu bagian dari keahlian saya. @irrrlanda tahu betul itu Smile with tongue out . Karena tiket sudah dipegang, saya pun memberi tahukan Obi bahwa tiket saya sudah ketemu dan mengatakan dia tidak perlu mencari-cari lagi .

“Bi tiketnya sudah ketemu, uda nggak perlu nyari lagi” , kata saya

“Tiket gw yang nggak ada woi”, kata Obi panik.

Melihat genuine expression di wajah Obi, saya dan Aqsath , sekali lagi, saya dan Aqsath , juga ikutan panik dan berpikir berbagai kemungkinan. Saya pun mulai berpikir dan menurut Aqsath coba ditanyakan saja ke Gege. Sementara kondektur sudah berdiri manis, menyarankan untuk Obi mencari-cari dulu saya mlai mencari kontak Gege siapa tahu tiket Obi ada di ditangannya. Sebelum sempat menekan Call , Tiket itu ditemukan dan ternyata tiket tersimpan manis di kresek makanan yang obi beli tepat sebelum naik kereta. Makanan dan obi, benar-benar berjodoh.

Hari semakin malam malah cenderung sebentar lagi berpindah hari. Udara sejuk di kereta memang membuai penumpang untuk merogoh bantal dan mulai tidur. Obi sudah duluan. Tito, sudah tidur nyenyak. Begitu nenyaknya sampai saya dan Aqsath juga ikutan mengantuk melihatnya. Alih-alih tidur, kami malah berbincang banyak hal. Akhir-akhir ini Aqsath memang seperti Mario Teguh di Golden Show, yang banyak memberikan petuah dan wejangan super buat saya. Malam itu tidak berbeda, kita banyak membicarakan hal-hal menarik. Tentang pekerjaan, korporasi, startup, jodoh, kuliah, riset di kampus dan macem-macem sambil sesekali tertawa ngikik melihat kejadian menarik disekitar kami.

Pukul dua pagi, satu jam dari waktu yang disarankan Upan untuk disetel di Alarm, saya terbangun. Ternyata sempat tertidur juga barang sejam – dua jam. Kita pun cukup kebingungan apakah sudah berada di dekat Jogja atau tidak,sementara sinyal ponsel tidak begitu dapat diandalkan. Karena ibu-ibu disamping obi masih tertidur, kami meminta Tito untuk mencari informasi kepada Nadine – cewek yang tadi ada disebelah Tito. Sayangnya, cewek tersebut, yang akhirnya diketahui jg anak ITB, baru sekali ini juga ke Jogja sehingga tidak terlalu banyak membantu. Dalam kondisi buta arah tersebut, kami mulai deg-degan takut kereta tau-tau sudah sampai saja di Solo Balapan sementara Upan kan menunggu di Stasiun Tugu.

Untungnya kereta tidak lama kemudian berhenti cukup lama dan ada teriakan Jogja-jogja sehingga kami pun segera turun setelah berpamitan kepada para tetangga duduk. Kita pun turun, dan menunggu Upan untuk menjemput. Upan datang dengan mobil Avanza hitam yang membawa kami terlebih dahulu untuk istirahat dan mandi di rumah Upan, dibilangan KM 8 Kaliurang. Selesai bebersih, perjalanan dilanjutkan mulai jam 6 menuju Cepu.

Untuk mengisi perut yang mulai menabuh genderang perang, Upan mengajak kami berhenti di Gudeg Yu Djum. Gudeg ini terkenal sekali, saya sempat gagal mencicipinya ketika Upan pulang dr Jogja beberapa minggu sebelumnya. Hari ini saya tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dan benar saja, saya yang tidak biasa sarapan nasi dipagi hari, hari itu melahap habis sepiring gudeg dengan cepat dan lancar.

WP_001140

Rombongan Solo dan Jogja berangkat pada waktu yang berbarengan namun dari starting point yang berbeda. Yogya – Cepu memakan waktu sekitar lima jam dan menempuh kota-kota seperti Solo, lupa , Sragen, Ngawi, Padanganan dan Cepu. Upan menyetir dengan cukup kencang. Di daerah sebelum Ngawi kami diingatkan oleh rombongan Solo bahwa di daerah tersebut bapak Polisi cukup disiplin, melihat pengemudi yang melanggar marka jalan. Upan harus jeli disini ,karena marka jalan kadang putus tapi sebenarnya itu garis lurus  sehingga kadang mudah terlanggar. Namun di jembatan itu akhirnya kamu apes juga sehinga ………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………

Tidak terasa pukul 12 kami sampai di lokasi pernikahan Ega. Rombongan Yogja yang selama di mobil berbekal kaos butung segera berganti pakaian karena sudah ditunggu-tunggu untuk membawakan beberapa nasyid lawas.

DSC04848

[#IF06 Nasyid Team, Puja pada vokal,Tito pada bass, Aqsath lead vokal, Obi pada rithm, Upan pada drum].

Di venue kita bertemu dengan rombongan yang lain dan menyelamati Ega, ngobrol , menikmati hidangan yang disediakan dan biasalah,,,,pertanyaan yang sering muncul adalah : “Ivan kapan nyusul ? “, “Tito kapan nyusul ? “ , “ Naila kapan nyusul ?” dan sebagainya. Selasai bersalaman, menyerahkan piala bergilir dan berpamitan , rombongan meneruskan perjalanan kembali ke Solo. Malam itu rencananya kita akan menginap di Solo.

DSC04855

[cecewean IF06 + Frida, urutan foto tidak mengindikasikan urutan pernikahan setelah ini]

DSC04853

Perjalanan Cepu-Solo kami kedatangan dua penumpang baru, yaitu Naila dan Austin yang bergabung di mobil. Perjalanan pulang dikendari oleh Aqsath menggantikan Upan yang kelelahan setelah 5 jam non-stop mengemudi. Sepanjang perjalanan, kita saling update berita, lebih banyak mendengar cerita Ocing dan Naila yang sekarang mengadu nasib di ibu kota. Apesnya, dalam perjalanan pulang, di daerah yang tiba-tiba ada kemacetan, Aqsath memacu mobil untuk menyalip mobil-mobil di depan kami. Tak disangka tak dinyanya ternyata kami melanggar marka jalan lagi sehinga  …………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………

Sekitar pukul tujuh kita sampai di Solo dan singgah di rumah makan Adem Ayem untuk makan malam bersama. Masakan Solo memang luar biasa enaknya dengan harga yang sangat masuk akal dan masuk dikantong #mahasiswa seperti saya. Di Adem Ayem juga banyak misteri terungkap, update terbaru gosip dan berbagai macam hal. Seperti kata Austin di salah satu tweetnya, meski sebentar, tapi ketemu muka familiar dan mengetahui keadaan masing-masing. Feel like the old days.

DSC04858DSC04861

Setelah selesai menenangkan perut, kami pun menuju penginapan Gajah Mada untuk menginap. Berkat bantuan Nur,sudah tersedia empat kamar untuk beristirahat. Sayangnya, hujan turun waktu itu sehingga kami tidak bisa keluar. Akhirnya seperti biasa, dengan membentuk lingkaran , maka berjam-jam waktu pun dapat habis dengan bercerita. Ada yang bermain kartu, ada yang curhat-curhat lagi. Paling seru sih dilingkaran ivan,nur , restya naila obrolannya seputar mahar Smile .

Karena kondisi kesehatan saya yang kurang baik saat itu , memaksa saya untuk segera tidur, tapi keesokan harinya, berdasarkan cerita Aqsath, di malam tersebut ada sesi sharing yang lebih seru lagi, dimana Aqsath banyak bercerita tentang dunia startup yang banyak dijalani nya sekarang, baik buruknya, naik turun nya, dan Nur mewakili dunia korporasi menceritakan petualangan, challenge dan hambatan yang dialaminya selama bekerja. Kesimpulannya adalah baik dunia startup dan korporasi memiliki challenge dan petulangan yang berbeda yang mana kesemuanya baik dan menarik.

Hari Minggu pagi, sekitar pukul 7, setelah sarapan Nasi Liwet yang nikmat luar biasa dan harganya sangatlah murah rombongan bersiap untuk pulang kembali. Anto,Prana,Nur ,Austin dan Naila menggunakan Argo Lawu menuju Jakarta. Saya,aqsath,tito , obi , restya, ivan, garry dan frida menuju Bandung dengan Lodaya. Sementara Upan stay di Jogja. Sepanjang perjalanan di kereta juga dihabiskan dengan mengobrol santai mengenai banyak hal. Perjalanan seperti ini memang menyenangkan. Bertemu kolega, bertukar informasi, membicarakan mimpi. Sesuai perkiraan, perjalanan ke Cepu membawa energi positif yang baru untuk beraktivitas kembali.

DSC04863

[5 menit sebelum menuju Stasiun, yang hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari hotel]