limaapril

05.04.2014

Motivasi Berprestasi

leave a comment »

Saya teringat dengan salah satu mata kuliah yang pernah saya ambil jaman masih kuliah di Institut Teknologi di Bandung. Nama mata kuliahnya motivasi berprestasi. Kenapa saya teringat kuliah ini ? Beberapa hari yang ada status seseorang yang intinya sedang ‘bercermin’ kembali dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini. Apakah sudah memenuhi keinginan dan kebutuhan dirinya ? Memang, bercermin harus selalu kita lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Katanya,kalau mau bersyukur lihatlah ke bawah, kalau mau termotivasi, lihatlah ke atas (dibaca secara konotasi).

Berbicara tentang kebutuhan dan keinginan dalam hidup, ada suatu teori yang terkenal di dunia psikologi, yang diajarkan pada kuliah Motivasi Berprestasi tersebut, yaitu Teori Kebutuhan-nya Abraham Maslow.

Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi lima tahap, seperti gambar piramida di atas. Yang pertama adalah level fisiologi, yaitu kebutuhan untuk makan, air, eksekrasi, bernapas, tidur, dst. Selanjutnya, adalah level safety, keamanan dari sisi kesehatan, keamaan pekerjaan, sumber daya, properti dst. Level berikutnya adalah level psikologi, seperti pertemanan, keluarga, dan intimasi dengan pasangan. Level diatasnya, esteem, adalah kebutuhan untuk kepercayaan diri, pencapaian, respek dari orang lain. Level yang paling atas, aktualisasi adalah kebutuhan untuk menyelesaikan masalah, fokus pada sekitar, moreal dan kreativitas.

Menurut Maslow, orang-orang pada negara maju lebih fokus ke level love/belonging dan esteem, sementara orang-orang pada negara berkembang masih fokus ke level fisiologi dan safety. Piramida kebutuhan ini mengisyaratkan suatu kebutuhan (yang akhirnya mendorong aksi dari seseorang) akan muncul setelah kebutuhan pada tahap dibawahnya terpenuhi. Contoh mudahnya, orang tidak akan butuh respek dari orang lain atau ingin suatu pencapaian jika untuk makan saja masih susah. Atau orang tidak akan kepikiran untuk mencari respek orang lain, jika pekerjaan atau kesehatan saja belum stabil. Kebutuhan tersebut hanya muncul jika kebutuhan pada level sebelumnya terpenuhi. Saya tidak yakin Bill Gates akan melakukan seluruh hal filantropi yang dilakukannya saat ini jika dia merasa kebutuhannya belum tercukupi. Dia bisa bermimpi untuk dunia yang lebih sehat, dunia yang sembuh dengan vaksin, dunia butuh toilet yang lebih baik karena kebutuhan seperti fisiologi,safety,love sudah dia miliki. Saya tidak yakin Ciputra akan punya mimpi besar untuk Indonesia yang lebih baik dengan enterpreneurship jika kebutuhan level fisiologi safety dan love-nya belum terpenuhi. Karenanya, sangatlah sulit membandingkan diri kita dengan orang lain misalnya, jika pemenuhan kebutuhannya belum pada level yang sama.

Bercermin ke atas itu perlu, ke bawah itu juga perlu. Tapi jangan dijadikan sebuah keharusan atau panduan yang bersifat tetap. Takutnya malah jadi destruktif. Bercermin pada diri sendiri menurut saya lebih baik. Memenuhi kebutuhan itu satu hal. Menjadi bahagia itu satu hal. Kata rekan saya, orang kaya dan tukang sapu bisa sama-sama bahagia walaupun kalo kita liat dari sisi Maslow, level pemenuhan kebutuhannya saja sudah berbeda. Penuhi kebutuhanmu dan berusahalah menjadi bahagia Smile.

Written by Puja Pramudya

Agustus 2, 2013 pada 6:47 am

Ditulis dalam kisi

Dikaitkatakan dengan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.403 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: